Loading...

Senin, 22 April 2013

Ahli Asuransi Dari Desa – Rahasia Sukses Ditengah Badai Krismon



Ada tiga kunci kombinasi yang membuat perusahaan kami tumbuh pesat di tengah badai krisis monoter terdahsyat yang pernah terjadi dinegeri ini. 

Pertama professionalisme sebagai broker. Dengan pengalaman selama hampir delapan tahun bekerja di  IBS, perusahaan broker asuransi nomor satu dan terbaik di Indonesia saat itu saya mendapatkan hampir semua ilmu dan pengalaman yang diperlukan untuk menjalankan bisnis broker asuransi. Saya menguasai seluruh proses transaksi asuransi. Mulai dari mencari klien baru sampai dengan pembayaran klaim. Walau saya tidak dituntut untuk mendapakan bisnis baru sewaktu di IBS namun saya tetap berhasil mendapatkanbeberapa klien yang cukup besar antara lain Standard Chartered Bank, Petrochemical, Master Steel dan beberapa perusahaan tambang. Saya  mahir dalam merancang isi polis atau terms and conditions yang terbaik. Saya juga bisa menangani klaim. Bahkan saya juga bisa membuat survey report dengan kwalitas tak jauh beda dengan hasil report dari Risk Management team. Saya bisa membuat report lengkap  berhalaman-halaman di dalam bahasa Inggris untuk berbagai jenis industri mulai dari plywood, property, industrial, petrochemical dan lain-lain. Meski nilai mata pelajaran ilmu kimia saya hanya lima sewaktu lulus SMA, tapi saya bisa menjelaskan proses produksi dari beberapa produk petrochemical dengan baik. Dalam hal ini saya banyak belajar dari mas Hermanto dan Alex Malcom dari Risk Management Indonesia anak perusahaan dari IBS. Saya yakin tidak banyak orang di IBS yang belajar sebanyak yang saya dapatkan. Satu-satunya pengalaman yang tidak banyak saya dapatkan adalah di bidang keuangan dan akutansi. Karena bidang ini memang terpisah dan dijalankan oleh team tersendiri. Dan sewaktu kuliah saya harus mengulang dua kali mata kuliah ini baru bisa lulus. Itu pulalah salah satu alasan mengapa saya  setuju untuk mengajak Arpiet bergabung di perusahaan ini karena dia memang bekerja di bagian finance and accounting di IBS. 

Selain dengan pengalaman dan pengetahuan, kami juga sejak awal sudah berkomitmen untuk mempunyai system komputer yang dirancang khusus untuk broker asuransi. Meski transaksi kami masih sangat sedikit  namun kami sudah menyadari bahwa sistem komputer merupakan alat yang sangat penting. Kami memberikan perhatian besar pada pengembangan sistem ini. Kami tidak segan-segan untuk melakukan investasi besar untuk membeli sistim  sekaligus dengan mengembangkannya. Walau hasilnya tidak sebagus yang ada di IBS  tapi bagi kami itu sudah cukup untuk menjalankan bisnis kami dengan baik.
Cara kerja kami juga sama dengan IBS, cara kami berkomunikasi, membuat terms and conditions serta pergaulan dengan rekan-rekan asuransi semua masih banyak dipengaruhi oleh gaya IBS.  Pada saat kami memulai bisnis di Indonesia ada sekitar seratus perusahaan broker asuransi. Kalau dikelompokkan, broker asuransi bisa dibagi ke dalam tiga kelompok, pertama kelompok independent dan professonal, kedua kelompok milik konglomerat dan milik BUMN dan yang ketiga adalah kelompok tidak professional dan tidak pula milik dari konglomerat. Kelompok pertama adalah perusahaan broker asuransi yang berdiri sendiri dan tidak punya group perusahaan pendukung. Mereka hidup dari hasil usaha sendiri. Sementara kelompok kedua adalah perusahaan yang mempunyai induk dari group yang sebagian besar  mendapatkan penghasilan dari induknya. Sementera yang ketiga adalah mereka yang mandiri akan tetapi kurang professional. Perusahaan kami masuk ke dalam kelompok pertama. Banyak rekan-rekan saya yang bertanya "VBS itu milik group siapa, dapat captive dari mana?" Kami tidak mempunyai captive market atau kolam yang sudah ada ikannya. Kami mendapatkan klien dengan berbagai cara antara lain melalui referensi teman-teman. Kami bekerja keras dengan ilmu yang kami dapatkan selama ini. Kami mempunyai semangat kerja yang jauh lebih besar di pesaing kami.

Rahasia kedua adalah karena pertolongan Allah. Sebagai bagian dari keluarga besar asuransi Takaful kami banyak belajar tentang bagaimana caranya bekerja dengan mendapatkan pertolongan Allah. Tidak hanya bekerja keras, kerja cermat, kerja tuntas tapi juga bekerja secara ikhlas. Lillahi ta'ala. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah mengizinkan sesuatu terjadi. Kami meningkatkan keimanan kami dengan terus berinteraksi dengan rekan-rekan Takaful. Kami ikut majlis taklim, sholat berjamaah dan lain-lain. Bagi saya ini tentu pengalaman yang sangat berharga. Meski saya sudah menjaga sholat lima waktu secara penuh sejak usia dua puluh tahun, tapi pengetahuan dan keyakinan saya tentang mendapatkan pertolongan Allah masih sangat sedikit. Saya belum banyak menjalankan ibadah-ibadah yang membuat hubungan dengan Allah semakin dekat. Saya belajar sholat tahajjud dari teman-teman ini, saya bergabung di tahajjud call group Takaful yang setiap malam mengirimkan sms atau miss call kepada anggotanya untuk bangung dan sholat tahajud. Saya mulai kembali belajar mengaji. Saya malu sekali ketika kami membaca Al Qur'an bersama karena bacaan saya sangat buruk dan tidak lancar. Yah maklumlah, saya hanya belajar mengaji sewaktu kecil ketika berumur antara lima sampai sepuluh  tahun. Setelah itu berhenti sama sekali. Dapat dibayangkan seperti apa kwalitas bacaan saya. Tapi saya bersyukur saya berada di kalangan teman-teman yang demikian baik yang mau membantu saya. Alhamdulillah secara perlahan-lahan saya bisa memperbaiki bacaan. Selain belajar dari teman-teman ini saya juga diajari oleh ibu mertua di rumah. Kami mulai mengadakan membaca kitab Al Quran secara rutin di kantor. Alhamdullilah kebiasaan itu masih terus saja jalani hingga saat ini. Arpiet yang bacaannya sudah jauh lebih lancar memimpin teman-teman yang lain. Meski kami bekerja keras tapi dalam suasana kerja yang teduh dan nyaman. Selain belajar mengenai ibadah dan aqidah kami juga belajar banyak mengenai syariah dan mualamah. Bersikap dan berperilaku  atau ahlak yang baik seperti yang diajarkan Rasulullah.

Rahasia ketiga adalah karena saya mengikuti Network Marketing. Setelah bergabung kemudian saya mengikuti pertemuan demi pertemuan di Network marketing. Saya mendapatkan banyak ilmu yang begitu bagus untuk saya terapkan di kantor. Di Network Marketing setiap orang diajarkan bagaimana cara menjalankan usaha sendiri. Setiap orang adalah  pemilik usaha mandiri atau yang disebut sebagai Independent Business Owner (IBO). Untuk itu mereka harus mempunyai rencana kerja, mempunyai keahlian dalam menjual, strategi pemasaran, menghadapi tantangan, memimpin, meningkatkan kwalitas diri. Ilmu seperti itu tidak diajarkan oleh perusahaan manapun kepada karyawannya. Ada tiga alat yang sangat penting untuk berhasil di bidang bisnis Network marketing. Pertama, pertemuan. Ada beberapa pertemuan dari para pelaku network marketing. Ada yang bersifat umum yang bisa diikuti oleh semua anggota. Pertemuan khusus bagi para leader dan lain-lain. Di dalam setiap pertemuan itu banyak sekali diajarkan ilmu-ilmu khusus kepemimpinan. Semakin sedikit pesertanya semakin tinggi ilmu yang didapatkan. Selain pertemuan, alat yang paling penting adalah mendengarkan kaset yang berisi ceramah dan penjelasan dari para pemimpin dan mereka-mereka yang sudah berhasil. Dan yang terakhir adalah membaca buku-buku yang dianjurkan. Saya benar-benar sangat terbantu dengan ilmu yang saya dapatkan di network marketing. Sekali lagi ilmu ini tidak mungkin saya dapatkan di perusahaan manapun apalagi di perusahaan broker asuransi. Semua ilmu itu saya terapkan untuk sendiri sebagai pimpinan kemudian  saya ajarkan di kantor. Setiap karyawan saya wajibkan untuk membaca buku-buku Berfikir dan Berjiwa Besar karangan David J Schwartz, Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain karangan Dale Carnegie, Personality Plus karangan Florence Littauer, buku-buku teori kepimimpinan dari Jhon  C Maxwell, buku Skill With People dan banyak lagi yang lain. Bahkan setiap bulan saya berlangganan buku baru. Pada awalnya saya memang tidak ingin menjadikan bisnis network marketing sebagai bisnis utama saya. Saya tetap ingin menjadikan VBS sebagai pekerjaan utama saya. Oleh karena itu saya mengajak isteri saya bergabung di bisnis network marketing ini agar isteri saya yang menjalankan secara penuh. Beberapa maanfaat nyata yang saya dapatkan bagi diri saya sendiri adalah mengenal pemahaman tentang diri sendiri. Saya baru tahu bahwa saya ini mempunyai kepribadian  seorang Melankolis-Phlegmatis. Orang dengan kepribadian melankolis adalah mereka yang mempunyai banyak pertimbangan, ragu-ragu, cenderung lamban, pendiam, dan kurang aktif. Sementera isteri saya seorang dengan kepribadian Kholeris Sanguin. Periang, senang bercerita, punya semangat tinggi dan kurang bagus dalam hal hitung-hutangan. Wow, saya baru sadar bahwa ternyata kami mempunyai dua jenis kepribadian yang berbeda. Makanya isteri saya selalu komplain kalau saya ini menurut dia terlalu berhati-hati dan lambat. Sementara saya juga komplain kepada isteri saya karena dia terlalu banyak bicara dan kurang memperhatikan hal-hal yang kecil-kecil. Nah sejak itu kami mulai saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan akibatnya komunikasi kami menjadi jauh lebih baik. Isteri saya yang dulu selalu mendominasi pembicaraan sekarang dia mulai belajar mendengar. Saya yang dulu selalu malu-malu sekarang mulai tampil ke depan dan banyak berbicara dan mulai bergerak lebih cepat.

Semua ilmu itu saya ajarkan di kantor. Akibatnya, setiap orang berubah menjadi lebih baik dalam waktu yang singkat. Banyak diantara staff baru kami  orang-orang yang baru datang dari desa seperti saya dulu. Dengan mendapatkan ilmu ini mereka cepat sekali berubah dan menyesuaikan diri dengan kondisi dan bergerak cepat. Bagi karyawan lain yang sebelumnya tidak mempunyai latar belakang menjual sekarang  menjadi penjual yang handal. Mereka yang sebelumnya suka mengeluh dan berfikiran negatif sekarang mulai berfikir positif dan semakin optimis dan antusias.
Saya juga terapkan cara kerja network marketing dalam menyusun target. Saya juga menggunakan istilah Vital Sign untuk memantau progres pekerjaan. Setiap orang harus mempunyai catatan kegiatan, hasil dari kegiatan mereka saya beri nilai. Nilai yang paling tinggi kami beri penghargaan. Saya yakin dengan proses. Bahwa sukses adalah hasil dari proses. Kalau seseorang mau secara tekun menjalankan prosesnya mereka pasti akan sukses. Semua orang akhirnya tanpa disuruh bekerja mengikuti proses akibatnya tanpa disadari hasil datang dengan sendirinya. Perumpamaan yang cocok untuk itu adalah seperti orang bertani. Para petani adalah pengusaha yang paling paham artinya proses. Untuk mendapatkan panen petani harus menyiapkan lahan terlebih dahulu,  menyemaikan benih, memelihara,  memupuk dan menjaga dari hama, menyirami agar tidak kekurangan air dan setelah beberapa waktu barulah petani akan memetik hasilnya. Di dalam bisnis juga berlaku prinsip yang sama. Kalau tidak pernah menelpon, tidak bernah berkunjung, tidak pernah meminta informasi, tidak pernah mengirimkan penawaran jangan berharap akan mendapatkan hasil. Prinsip itulah yang sudah menjadi keyakinan kami di perusahaan. Jadi walau team kerja kami relatif muda dan baru tapi mereka mempunyai sikap bekerja yang mampuni. 

Kombinasi ketiga pilar inilah yang menjadi pendorong kemajuan perusahaan kami. Pada akhir tahun 1998 kami mendapatkan keutungan yang luar biasa. Kami sudah membagi-bagi deviden dalam jumlah yang lumayan besar. Bagi saya cukup untuk membeli sebuah rumah baru. Para pemegang saham yang lain  sangat senang. Mereka selalu berharap agar setiap tahun perusahaan bisa membagi-bagi deviden walau tidak terlalu banyak. Maklumlah sebagian besar mereka adalah para pensiunan yang berharap agar investasi yang mereka tanamkan segera memberikan hasil. Karena itu adalah satu-satunya harapan mereka untuk mendapatkan uang. 
Kira-kira akhir 1998 saya mengadakan konsultasi dengan upline Direct Distributor saya di network marketing, ibu Aimy Gerungan namanya. Beliau adalah isteri dari pak Edwin Gerungan salah seorang Vice President Citibank sewaktu saya masih di IBS. Pak Edwin juga  mantan President Direktur Bank Mandiri yang pertama. Saya sangat menghormati ibu Aimy karena beliau sangat rendah hati. Untuk orang dengan kondisi ekonomi yang sudah mapan seperti beliau mestinya tidak perlu lagi menjalankan bisnis network marketing. Rumah beliau yang sangat besar di kawasan Simprug Senayan tak jauh dari rumah ibunda dari Abu Rizal Bakrie. Setiap tahun beliau beberapa kali bolak-balik ke Amerika. Sore itu kami mengadakan konsultasi  di sebuah kafe di Plaza Senayan. Konsultasi adalah salah satu dari sistem di network marketing dimana down line mendapatkan pengarahan dari up line minimal sebulan sekali. Dalam satu sesi konsultasi ibu Aimy bertanya kepada saya “pak Taufik sudah membaca buku ini” katanya sambil menyodorkan buku Rich Dad Poor Dad karangan Robert Kyosaki. “Wah belum bu” jawab saya. Kemudian beliau menjelaskan bahwa di Amerika buku itu lagi-lagi laris-larisnya dan mungkin sebentar lagi akan dijual juga di Indonesia kata  beliau menjelaskan. Salah satu yang diajarkan oleh Robert Kyosaki adalah “Mind your own business” atau Pikirkanlah tentang bisnis milik anda sendiri. Dalam hati saya katakan bahwa saya sudah menjalankan perusahaan saya sendiri yaitu VBS. Kemudian beliau bertanya “oh ya bagus kalau begitu pak Taufik,  bapak sudah menjalankan bisnis bapak sendiri, tapi ngomong-ngomong berapa persen saham bapak di perusahaan itu?” tanya bu Aimy lagi. Saya terdiam. Saya coba mengingat berapa persen jumlah saham saya. Wah saham saya, ternyata saham saya tidak sampai 10%.  Sejak detik itu saya baru sadar ternyata saya bukan sepenuhnya memiliki VBS perusahaan yang dari nol saya dirikan itu. Dengan saham sebanyak itu saya tidak akan bisa berbuat apa-apa. Artinya saya tidak akan pernah mempunyai kebebabasan waktu dan uang karena ada lebih dari 90% orang lain yang menguasai perusahaan itu. Saya menyadari bahwa saya telah bekerja keras di tempat yang salah. Bukan ditempat yang benar-benar saya inginkan. Kerja keras, keberanian dan kreatifitas yang sudah saya habiskan sejak mememulai usaha ini hingga sampai berhasil dan sukses ternyata tidak akan mengantarkan saya kepada cita-cita saya yang sesungguhnya yaitu untuk mencapai kebebasan uang, kebebasan waktu dan kebebasan dari tekanan orang lain.


Tidak ada komentar: