Loading...

Minggu, 14 Agustus 2011

Berkunjung ke Takalar, Makassar dan Pare Pare


Bepergian ke luar kota di bulan Ramadhan kali ini bagi saya  menjadi yang tidak bisa dihindari karena itu bagian dari bisnis. Kalau disuruh memilih saya lebih senang tinggal tetap di Jakarta agar beribadah maksimal selama Ramadhan ini. 
Setelah Sabtu lalu terbang ke pulau Bangka . Jumat, Sabtu dan Ahad ini saya terbang ke pulau Sulawesi. Ada dua agenda penting yang harus saya tuntaskan di Sulawesi. Pertama, ke Takalar, untuk mengadakan survey atas kedatangan 6 unit mesin genset dari China yang akan dipasang di gardu induk Takalar.yaang sebentar lagi akan beroperasi. Kedua, ke Pare Pare, untuk mengadakan survey untuk perpanjangan asuransi 10 unit genset sekaligus mengadakan survey atas kerusakan salah satu dari mesin itu. Sementara ke Makasar ya, itu sasaran antara karena saya harus mengingap di daerah ini di antara kedua tempat itu. Saya hanya bisa melakukan survey ke satu lokasi setiap hari.
Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar

Corridor Terminal Keberangkatan

Saya mendarat di bandara baru Sultan Hasanuddin II di Maros di bagian barat kota Makassar Jumat tanggal 12 Agustus 2011 jam 9 pagi waktu setempat. Ini adalah bandara pengganti bandara lama yang sudah tidak dipakai lagi untuk penerbangan komersial. Begitu mendarat dan memasuki ruang terminal saya dibuat kagum dengan konstruksi bangunan bandara ini. Megah, ya itulah kesan saya. Maklumlah ini adalah bandara paling baru dan canggih yang dibangun di Indonesia. Fikiran saya kembali menerawang ke bandara di  Shanghai dan Beijing China. Di dua kota besar itu dua bulan lalu saya menyaksikan bandara yang begitu megah. Bandara Sultan Hasanunddin II memang belum semegah dan sebesar yang ada di kedua kota itu, tapi konstruskinya sudah mirip. Desain ruang tunggu dan kedatangannya sudah sangat bagus.
Di Bandara saya sudah ditunggu oleh rekan saya pak Mulyadi dari TRIPA Syariah yang sudah tiba lebih dulu dengan menaiki pesawat Garuda berangkat jam 05 pagi dari Jakarta. Setelah bertemu kami berjalan ke halaman parkir dan di sana sudah menunggu Hendra Kansil salah satu staff dari kantor cabang TRIPA  Makassar. Setelah berkenalan sebentar kami mulai bergerak meninggalkan bandara.
Lahan pertanian yang kekeringan
Wilayah Makassar dan sekitarnya saat itu sedang mengalami kekeringan. Sudah hampir tiga bulan hujan tak pernah turun. Udara terasa begitu panas menyengat walau a/c mobil sudah dinyalakan. Di luar tampak sinar matahari membakar dedaunan. Rumput terlihat sangat kering, banyak pohon besar yang meranggas. Udara diperkirakan berkisar sekitar 34 derjat celcius.

Setelah keluar dari kawasan bandara kami langsung masuk jalan tol yang membelah kota Makassar. Kami memotong jalan yang langsung menuju ke Takalar. Untung Hendra sudah paham seluk-beluk jalan di wilayah ini. Maklumlah dia sudah  tahunan tinggal di sini meski dia lahir dan besar di Jakarta dan ia bukan pula orang asli Makassar. Ayahnya dari Manado dan ibunya dari Tapanuli.
Kami melewati jalan kecil yang dikiri-kananya sawah dan rumah penduduk. Di beberapa lokasi sawah sudah menjadi “puso” alias gagal panen. Di sepanjangan jalan saya melihat begitu tingginya semangat beragama orang Sulawesi Selatan. Saya menemukan begitu banyak mesjid megah walau berada di tengah-tengah kampong senderhana. Menara mesjidnya tinggi seperti model menara mesjid Nabawi di Madinah. Mereka memahami betul hadis yang mengatan bahwa “rumah Allah lebih bagus dari rumah sendiri”.
Setelah lebih kurang 1,5 jam perjalanan kami memasuki wilayah Goa, sebuah wilayah bekas kerajaan Goa yang pernah dipimpin oleh seorang yang sangat hebat bernama Sultan Hasanuddin. Salah seorang tokoh pejuang nasional Indonesia yang sangat terkenal yang namanya menjadi nama bandara utama di Sulawesi Selatan. Ketika waktu sudah mendekati jam 12 siang waktu setempat kami mencari mesjid untuk melaksanakan sholat Jumat. Akhirnya kami berhenti di depan sebuah mesjid yang sedang direnovasi tak jauh dari gedung kantor DPRD Takalar. Kami datang lebih awal, baru dua orang jemaah yang sudah ada di dalamnya. Sementara kami sholat Jumat Hendra sahabat kami istirahat dan makan siang dengan menu jagung rebus. Maklum Hendra bukan seorang muslim. Setelah menunggu cukup lama sholat jumat di mulai dan ternyata yang menjadi khatib adalah salah satu dari dua orang yang duduk di awal tadi. Anak mudah namun dengan pengatahuan dan keahlian berkhotbah serta makhrojul huruf pembacaan Al Quran yang begitu baik. Dalam khotbahnya dia membahas tentang maksiat yang sedang merajalela di tengah-tengah masyarakat saat ini. Saya kagum dengan tingginya pengetahuan agama masyarakat Sulawesi Selatan. 
Menara Mesjid
Selepas sholat Jumat kami sekali lagi bertanya tentang kepastian lokasi proyek yang kami tuju. Setelah jelas kami terus melanjutkan perjalanan kira-kira setengah jam kami sampai di lokasi. Di tengah-tengah di kaki sebuah bukit kecil di ujung persawahan yang sedang kering-kerontang. Kami di sambut oleh pak Slamet salah satu pimpinan proyek. Pekerjaan pemasangan baru mencapai sekitar 60% masih banyak yang harus dikerjakan. Salah satu kendala adalah terlambatnya  kedatangan mesin genset yang mengalami kesulitan dalam perjalanan karena terlalu berat. 1 unit mesin beratnya 150 ton sehingga tidak bisa melalui jalan umum. Akhirnya diputuskan genset itu diangkut melalui laut dari Makassar dan diturunkan di pantai Topejawa sekitar 10 km dari proyek. Tapi setelah berusaha selama 6 hari genset belum bisa juga diturunkan dari tongkang karena kapal tidak bisa merapat ke jetty karena pasang tidak bernah naik sampai ketinggian yang diinginkan. Saat kami datang sedang diusahakan untuk menimbun pasih sehingga bisa mendekati tongkang. Semoga semua usaha dapat berjalan lancar.

Pembuatan Jetty sementara
Eloknya Pantai Topejawa
Sambil melihat proses penurunan mesin dari tongkang saya sempat menikmati indahnya pantai Topejawa. Landai dan dengan ombak yang tidak begitu besar. Pantai memanjang dan melingkar dan terlihat sangat bagus. Pasirnya bewarna kecoklatan dan tidak terlu putih sementara air lautnya tidak begitu bening seperti pantai Jebus di Bangka Barat yang minggu lalu saya kunjungi. Tapi lumayan bagus untuk dijadikan obyek wisata bagi penduduk local. Ketika meninggalkan lokasi kami kembali melalui jalan kecil melewati kampong. Di pinggir jalan kami membeli buah semangka yang lumayan besar-besar untuk orang-orang di kantor Hendra. Harganya sangat murah, satu buah harganya cuma lima ribu perak. Bandingkan kalau sudah dijual di pinggir jalan besar harganya minimal lima belas ribu satu buah. Perjalanan kami lanjutkan menuju kota Makassar tempat kami menginap. Kami kembali melalui jalan-jalan kampong menyaksikan sawah-sawah yang kekeringan dan sapi bali milik penduduk mengais rumput dan ranting kering. Saya berdoa semoga Allah segera menurunkan hujan di wilayah ini dalam waktu dekat ini, amiiin.

Wajah anak-anak Takalar
Makassar
7 tahun lalu saya sempat singgah di Makassar tapi tak sempat berjalan-jalan saya hanya berada di sekitar Bandara saja. Kali ini saya berkesempatan menjelajahi kota penuh sejarah ini.  Kami menuju  ke pusat kota tempat kantor cabangnya sahabat saya. Saya berkenalan dengan mereka satu persatu-satu. Akhirnya setelah disambung-sambungkan yah, akhirnya kami punya teman dan kenalan yang sama. Yah itulah untungnya berada di dalam lingkungan industri yang sama selama bertahun-tahun. Kita bisa mengenal begitu banyak orang. Oleh karena itu kita kita perlu berkenalan dengan sebanyak-banyaknya orang dan kemudian menjaga reputasi baik kita di dalam industri itu. Dua hal itu adalah modal besar untuk mempunyai karir dan usaha terutama di industri asuransi.

Ketika waktu buka puasa sudah datang, kami ditraktir berbuka puasa di sebuah restoran paling top LOSARI Seafood di pusat kota oleh pak David wakil kepala cabang Tripa Makassar. Kami memesan beberapa ekor ikan untuk di bakar lengkap dengan lalap dan bumbunya. Ketika waktu berbuka tiba saya benar-benar menikmati makanannya. Maklumlah puasa hari itu begitu terasa berat karena sejak jam 4 pagi sudah harus berangkat dari rumah. Kemudian setelah sampai menempuh perjalanan selama 6 jam pulang pergi ditambah lagi waktu survey di bawah terik matahari dan udara panas yang membakar.  Membuat tenggorokan benar-benar terasa kering dan tubuh  lemas. Apalagi selama dalam perjalanan kami melalui banyak jalan berlubang yang membuat badas terasa nyeri. Buka puasa itu terasa betapa nikmatnya pemberian Allah. Waktu berbuka puasa di Makassar 1 jam lebih dulu dari di Jakarta. Pada saat berbuka saya saya menelpon my son “hay son, papa sudah buka puasa di sini” kata saya. My son menjawab dengan nada lirih “wah papa enak bangat jam segini sudah buka” katanya.
Ikan bakar khas Losari

Selepas berbuka dan sholat magrib di restoran itu, saya diantar check in di hotel Kenari Tower di dekat pantai Losari. Hotelnya cukup bagus dan bersih. Bangunannya berlantai tujuh, mungkin hotel ini berbintang 3. Tariff hotelnya juga relative murah hanya Rp. 385,000 di kamar deluxe. Begitu masuk kamar saya hanya menarok tas dan buka sepatu langsung lompat ke atas tempat tidur dan lagsung tertidur. Jam 1 malam baru terbangun langsung sholat isya dan tarawih. Setelah sahur di lantai 7 bersama rekan saya pak Mulyadi kami kembail ke kamar dan pak Mulyadi langsung siap-siap untuk kembali ke Jakarta sementara siap-siap untuk melanjutkan petualangan ke Pare Pare sekitar 150 km dari Makassar.

Pare Pare
Jam delapan pagi saya sudah berada di dalam Toyota Avanza yang sudah saya pesan dari semalam.  Harga sewanya lima ratus ribu pulang pergi sudah termasuk sopir, bensin dan jalan bayar tol. Awalnya ditawarkan harga Rp. 900,000 sehari tapi saya tawar Rp. 400,000. Sewanya cukup mahal tapi karena saya harus mencari-cari lokasi lagi di Pare Pare dan harus kembali lagi ke Makassar saya pikir harga segitu tidak terlalu mahal. 
Pembangunan Jalan Beton Makassar Pare Pare
Setelah berputar di depan pantai Losari kami berbelok menuju jalan tol arah ke Maros. Jalan-jalan kota Makassar belum begitu ramai ketika kami lewat. Ke luar jalan tol kami menuju menelusuri pantai barat wilayah Sulawesi Selatan melalui Maros, Pangkep, Barru, dan kota-kota kecil lainnya. Jalannya relatif rata dan lurus, seperti jalan pantai utara pulau Jawa menelusuri pinggir pantai. Kondisi jalannya belum begitu baik. Sedang dalam proses penggantian dari jalan biasa menjadi jalan beton. Mungkin sekitar 60 persen sudah selesai di beton. Yang menjadi masalah adalah sambungan antara jalan berbenton dengan yang belum tidak rapi. Kita tiba-tiba harus pelan turun dari jalan beton masuk ke jalan lama. Atau tiba-tiba sampai di ujung jembatan yang belum diganti masih dengan ukuran kecil sementar jalan beton lebih lebar. Ada unggukan pasir dan barang-barang proyek ditarok begitu saja di tengah jalan. Membuat perjalanan terasa kurang nyaman. Kendaraan rata-rata hanya bisa dipacu dengan kecepatan 60 km/jam. Jalannya tidak terlalu ramai, maka saya berfikir jalan selebar itu dengan kondisi beton yang begitu kokoh, untuk apa dibangun kalau hanya untuk dilalui oleh kendaraan yang sedikit dan ukurannya tidak terlalu besar. Jarang sekali kita menumi truk-truk besar ataupun bus-bus besar yang melintas. Hal ini dapat di pahami karena di sebelah barat wilayah itu tidak terdapat kota besar dan juga pabrik-pabrik dan industri besar yang memerlukan sarana angkutan besar. Tapi yah, sudahlah mungkin pemerintah punya maksud lain.
Sepanjang perjalanan saya banyak tertidur karena rasa capek semalam belum begitu hilang. Sekali-sekali saya melihat ke kiri-kanan jalan. Kembali saya menyaksikan banyak sekali bangunan mesjid besar dan bagus berdiri di sepanjag jalan. Rumah-rumah penduduk desa yang sederhana. Sebagia besar berupa rumah panggung kayu dengan ukuran rata-rata di bawah 50 meter persegi. Lahan pertanian dan sawah yang mengering dan sapi-sapi bali yang di lepas ditengah padang luas sedang mengais rerumputan kering. Sedih juga meliha t pemandangan seperti itu. Terbayang masa-masa saya gembala dulu sewaktu kecil di kampong saya. Mengembalakan sapi dan kerbau di musim kemarau harus pandai mencari lahan yang ada rumputnya, biasanya di pinggir sungai atau di pematang sawah.
Sapi Bali di rumput kering
Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 3 jam saya memasuki kota Pare Pare. Ada pintu gerbang  kota bertulis “Assalamualaikum, Selamat datang di kota kelahirannya presiden ketiga Republik Indonesia”.  Yah, Pare Pare adalah kota kelahirannya bapak BJ Habibie mantan presiden RI ke tiga. Kotanya bersih dan tertata denga baik. Meski kota kecil tapi aktifitas kota relative sibuk. Jalan-jalan dalam kota teratur dengan baik. Banyak toko-toko dan pusat-pusat pendidikan di dalamnya. Pare Pare berada di pinggir teluk dan lereng bukit. Jadi kotanya bertingkat-tingkat. Mulai dari yang berada di pinggir pantai sampai yang berada di atas bukit. Dari atas bukit terlihat bertapa indahnya wilayah pantai dan laut lepas. Saya kembali menjalankan misi pribadi saya disetiap kota yang saya kunjungi, anda sudah tahu kan?  Mencari tahu informasi tentang restoran padang. Nah, saya menemukan dua restoran padang yang relative di  besar di Pare Pare, pertama PUTI BUNGSU dan yang dua MINANG RAYA yang jaraknya sekitar 1 km antara satu dengan yang lain. Nama jalannya saya lupa. Penemun ini melegakan hati saya karena di sepanjang jalan dari Maros sampai Pare Pare saya tidak melihat satu restora padangpun di pinggir jalan. 
Restoran Puti Bungsu Masakan Padang di tengah kota Pare Pare
Setelah menelpon ke klien saya akhirnya saya tiba di lokasi tempat saya survey di jalan Bambu Runcing tak jauh dari kantro DPRD Pare Pare di puncak bukit. Setelah mengambil gambar genset yang rusak serta memsurvey 10 unit genset yang lainnya sekitar 1 jam saya pamit. Udara yang begitu penas terasa sangat menyengat serta bunyi mesin yang menderu membuat saya tidak tahan berlama-lama disana. Sekitar jam 12 siang saya sudah selesai.  Selepas dari situ saya menelusuri jalan memutar dan kami berhenti di sebuah mesjid besar di depan taman makam pahlawan untuk sholat zuhur. Saya masih sempat sholat berjamaah dengan ratusan jemaah lainnya. Sekali lagi saya menyaksikan betapa taatnya orang Sulawesi Selatan dalam menjalankan agama. Jemaah sholat zukurnya begitu ramai. Kalau di Jakarta saya yakin tidak akan seramai itu.
Perjalanan pulang kembali ke Makassar relative lancar, pak Amir sang pengemudi masih kuat dan tidak perlu istirahat sehingga 4 jam kemudian saya sudah sampai kembali di hotel Kenari Tower di Losari Makassar.

Indahnya kota Pare Pare


Mesjid di depan Taman Pahlawan tempat saya sholat zuhur

Saya sebenarnya bisa langsung kembali ke Jakarta naik pesawat terakhir pada hari itu juga tapi sejak dari semula saya sudah niatkan untuk bermalam di Makassar.  Saya ingin menikmati bermalam dan sholat tarawih di Makassar. Awalnya saya ingin sholat tarawih di mesjid Al Markas yang dibangun oleh almarhum Jenderal M Yusuf salah satu tokoh nasional asal Makassar yang yang berjasa bagi Indonesia. Tapi ternyata saya tidak bisa sholat di mesjid Al Markas karena letaknya cukup jauh dari hotel saya menginap. Setelah berbuka ala kadarnya di hotel saya ke luar dan ternyata tidak jauh dari hotel ada mesjid besar berlantai 4 dan ber a/c namanya mesjid AKSA lalu saya berfikir jangan-jangan mesjid ini dibangun oleh keluarga pak Aksa Machmud salah satu pengusaha besar nasional asal Sulawesi Selatan dengan nama group usahanya BOSOWA.
Selepas sholat magrib di mesjid Aksa yang naik becak dan minta diantar ke restoran seafood yang enak. Saya diantar  ke restoran BAHARI yang jaraknya cukup jauh dari hotel. Saya menikmati pengalaman naik becak lagi setelah hampir 30 tahun tidak pernah setelah becak di larang di Jakarta. Saya pesan ikan bawal putih bakar dan enak sekali lengkap dengan bumbunya. Harganya tidak terlalu mahal, saya habis Rp. 80,000. Dengan menumpang becak yang sama saya kembali mesjid Aksa untuk sholat Isya dan Tarawih lalu saya minta pengendara becak untuk menunggu saya untuk mengantar saya jalan-jalan ke pantai Losari dan membeli oleh-oleh. 

Jam Sembilan kurang saya sudah selesai sholat tarawih. Becak sudah menunggu di bawah untuk mengantar saya menelusuri pantai. Di sepanjang pantai terlihat begitu ramai. Banyak anak muda bercengkerama, bercanda dan juga asyik-masyuk dengan pasangannya. Pemandangan di sekeliling pantai terlihat gemerlap dengan lampu-lampu yang menghiasi hotel, restoran, pertokoan disepanjang pantai. Pantai Losari sudah ditata sedemikian rupa sehingga sangat nyaman untuk bersantai. Banyak bangku-bangku yang disediakan, pagar-pagar dan tangga-tanga yang bisa diduduki oleh ratusan orang. Pada saat saya mengambil beberapa foto tiba-tiba ada orang yang bertanya kepada saya dalam bahasa Inggiris, setelah berkenalan ternyata mereka adalah orang Malaysia keturunan Tamil mereka rombongan sedang berlibur di Makassar.
Selepas berfoto-foto saya diantar menuju ke toko oleh-oleh khar Makassar sekitar 500 meter dari taman pantai. Oleh-oleh Makassar yang unik dan jarang terdapat di kota lain menurut saya adalah kacang mete khususnya yang sudah diolah. Kalau makanan lainnya menurut saya tidak terlalu unik. Harga kacang mete juga relative mahal. Untuk 1 bungkus ukuran sedang dengan status “ori” alias asli harganya Rp. 60,000/bungkus. Lumayan mahal kan?

Saya kembali ke hotel sambil menikmati udara malam Makassar, ketika saya sampai di hotel dan ingin membayar “jasa” si mas tukang becak, saya ingin memberikan kejutan kepadanya dengan memberikan Rp. 50,000. Saya yakin si mas ini pasti  senang, saya sodorkan uang Rp. 50,000, eh tapi di luar dugaan saya si masnya bilang begini “kurang pak, seratus ribu pak” Wah... saya terkejut, segitu mahal! Tapi yah sudahlah saya bayar saja, hitung-hitung sedekah di bulan suci Ramadhan.

Perjalanan ke Sulawesi Selatan sangat mengesankan. Kini saya semakin paham bahwa masyarakat Sulawesi Selatan secara umum sangat religious jauh lebih sholeh dari suku manapun. di negeri ini. Mereka membangun rumah Allah, memakmurkannya dengan membaca Al Quran. Di setiap masjid dipimpin oleh imam yang sangat fasih bacaannya. Saya melihat juga semangat membangun masyarakatnya yang begitu tinggi. Mereka lebih mandiri meski tidak terlalu banyak penanamam modal asing maupun lokal tapi mereka mampu mencipkan ekonomi sendiri. Maju terus Sulawesi Selatan. 

Informasi ini dipersembahkan oleh:

 

Tidak ada komentar: