Loading...

Friday, June 17, 2011

Semalam di Clarke Quay

Awalnya saya tidak pernah berencana untuk menginap di daerah Clarke Quay ketika saya mencari tempat tinggal di Singapura pada tanggal 4 Juni 2011 lalu. Karena ini hanya tempat persinggahan satu hari saja setelah hampir sepeken berada di Malaysia.

Sebagaimana kebanyakan orang Indonesia saya awalnya ingin mencari tempat tinggal di sekitar kawasan Orchard Road atau yang lebih dekat ke Lucky Plaza. Saya sudah sempat menghubungi beberapa apartement yang direkomendasikan oleh teman atau yang saya dapatkan dari internet. Saya sudah mau pesan di salah satu apartmen tapi sang tante si pemilik apartemen mengatakan agar saya menelpon satu hari sebelum saya datang. Tapi karena saya akan berada di Kuala Lumpur saya tak yakin akan sempat menghubungi dari sana, iya kalau ada kamar pada hari itu, kalau tidak saya sudah tidak bisa mencari tempat lain. Akhirnya saya putuskan memesan kamar lewat website www.Agoda.com.  Alhamdullilah masih ada kamar tersisa yang sesuai dengan budget saya yaitu di hotel Robertson Quay di daerah Clarke Quay dengan tarif SS150/malam. Saya tidak pikir panjang lagi langsung saya konfirmasi dan bayar pakai kartu kredit dan langsung keluar konfirmasi lewat e-mail, saya print untuk bukti waktu check in. 

Setelah menempuh perjalan naik bus mewah dari Kuala Lumpur selama 4 jam lebih, jam 4 pagi kami sudah sampai di hotel Robertson Quay tempat kami menginap. Karena check in ke kamar baru buka jam satu siang, setelah berberes dan sholat subuh kami keluar dan  mulai menelusuri wilayah sekitar Clarke Quay. 
Begitu menelurusi jalan Robertson street kami melihat betapa indahnya tata kota Singapura. Jalan-jalan lebar dan teratur. Pohon-pohon besar tumbuh di sepanjang jalan tempat puluhan ekor burung bersiul menyambut pagi. Kami menelusuri Rebertson Walk  di pinggir sungai Singapura hingga sampai di halte bis  yang mengantar kami menuju ke Orchard Road kira-kira 15 menit.

Clarke Quay adalah sebuah daerah di kawasan pinggir sungai Singapura. Tempat dimulainya dunia perdagangan Singapura. Disinilah dulu para pedagang manca negara berlabuh dan melakukan perdagangan antar benua. Sampai saat ini suasananya masih seperti zaman dulu. Kawasan ini hampir sebagian besar penghuninya adalah orang bule (orang puteh). 
Clarke Quay  fungsinya sama dengan pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta pada jaman dulu, sebagai kota pelabuhan dan perdagangan. Wilayah Clarke Quay dan sekitarnya sama dengan daerah Kota di utara Glodok Jakarta.

Di sore hari, suasana khas Clarke Quay semakin terlihat. Sejak jam lima sore, banyak orang-orang bule berolahraga jogging di sepanjang pinggir sungai. Sementara yang lain duduk santai bercengkarama di bangku-bangku menghadap  ke sungai. Puluhan restoran-restoran mewah mulai bersiap untuk melayani para tamu dengan menyalakan lampu warna-warni, semakin malam cahanya semakin memukau dan temaran. Jam 7 malam, semuanya sudah berubah menjadi lautan cahaya. Sangat indah dan memukau. Rasanya tak kalah dengan pemandangan kota Shanghai di malam hari dilihat dari atas boat di sungai Huang Fu. Atau menikmati keindahan kota Sydney dari teluk Sydney. Bedanya, di Clarke Quay disamping anda menikmati kilauan lampu dari gedung-gedung pencakar langit, anda juga bisa menikmati keindahan lampu yang menghiasi restoran di sepanjang sungai.

Ketika malam semakin larut, semakin ramai saja pengunjung pusat hiburan di Clarke Quay, mereka datang berbondong-bondong menikmati berbagai hidangan dari manca negera yang dihidangkan di setiap restoran. Untuk bisa menikmati malam nan begitu indah kami memutuskan naik perahu mengelilingi sungai Singapura. Luar biasa sekali, semakin jauh kami menuju arah muara semakin indah pemandangannya. Kami melihat lampu-lampu nan begitu indah memancar dari hotel Fullerton. Perahu terus berlayar menelusuri pinggir sungai hingga sampai dekat jembatan Esplanade tempat patung Merlion yang terkenal itu. berdiri. Wah, patung  Merlion sangat indah terlihat diteringi lampu hias. Hampir 40 menit kami mengitari sungai sampai kami kembali ke Robertson Quay tempat kami tinggal.  Karena hari telah larut kami kembali ke hotel agar besok pagi cepat bangun untuk bisa pergi ke Sentosa Island untuk menonton Singapore Universal Studio.

Pagi hari, selepas sarapan saya dan my son bergegas ke Central Plaza stasion MRT menuju ke Harbor Front sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Sentosa Island. Hujan mulai turun rintik-rintik, akhirnya kami naik taxi dari hotel ke Central walau jarakannya cukup 10 menit berjalan kaki. Begitu sampai di Harbor Front hujan turun semakin lebat saja, kami coba menunggu hampir satu jam tapi hujan tak kunjung reda jua. Nah pada saat kami menunggu itu kami bertemu dengan mas Adnan Iskandar sahabat dan tetangga kami yang kebetulan juga sedang berlibur disana. "wah mas Taufik kalau mau pergi ke Universal Studio kayaknya waktunya nggak cukup karena hari ini pengunjungnya sangat ramai, ini kan hari libur antrinya panjang sekali, paling tidak perlu waktu 5 jam" kata mas Adnan. Sementara jam 3 kami sudah harus siap-siap naik speed boat ke Batam untuk malamnya kembali ke Jakarta. Setelah saya diskusikan dengan my son, dia setuju saja. "Nga apa-apa pa, kan tadi malam kita sudah lihat Singapura di malam hari" katanya. Lalu saya katakan "insya Allah nanti kita balik lagi aja, tiket masuk kita kan berlaku sampai 31 Desember 2011" kata saya. Setelah ha ha hi hi dengan mas Adnan kami berlalu menuju MRT stasion dan my son yang sudah jago memesan tiket lewat mesin, membeli tiket MRT untuk kembali ke Clarke Quay. Begitu kami keluar dari stasion Central kembali hujan deras menyamput kami. Kami coba menghindari hujan dengan berjalan di lorong-lorong gedung sepanjang 1 km, hingga akhirnya kami tak punya pilihan lagi kecuali mengambil resiko berjalan dibawah guyuran hujan hingga sampai di Robertson Hotel. Setelah berberes kami langsung check out untuk kembali ke Harbor Front untuk naik speed boat ke Batam.

Kalau anda ingin merasakan sisi lain dari Singapura, cobalah tinggal di daerah Clarke Quay ini. Apalagi kalau anda ingin berlibur di Sentosa Island. Jaraknya hanya 3 stasion MRT ke Harbor Front pintu gerbang ke Sentosa Island. Daerah ini juga dekat ke China Town dan ke Esplanade dan Raffles City dan patung Merlion. Suasananya juga beda, kalau di Orchard Road mungkin tidak banyak berbeda dengan pusat pertokoan di Jakarta. Cobalah lihat di Lucky Plaza, hampir sebagian besar dari pengunjung adalah orang Indonesia, paling ada campurannya orang Filipina. Barang yang dijual di Orchard Road juga ada di Jakarta. Harga mungkin tidak terlalu berbeda. Saya lebih memilih berbelanja di Jakarta saja, pertama tidak report membawanya, kedua punya cukup waktu untuk memilih-milih barang. Bukti lain bahwa disana banyak sekali orang Indoneisa, cobalah mampir ke food court, sekitar 30% dari makanan adalah masakan khas Indonesia khususnya masakan Padang tempat Gayus Tambunan tempo hari ditangkap.

Untuk mencapai Clarke Quay relatif mudah, bisa naik MRT stasion NE5, kalau dari Orchard Road pindah di Gobind. Naik bis juga banyak, kalau naik taxi dari Orchard Road sekitar S12 kalau tidak kena surcharge atau bisa jadi S20 kalau ada surcharge.

Selamat menikmati Clarke Quay.

Informasi ini dipersembahkan oleh:


2 comments:

Ayyub Thalib said...

misi saya mautanya itu perahunya naiknya darimana? di daerah apa dan beli tiketnya dimana ? adanya jam berapa aja ? 1 orangnya berapa ? makasih balesnya ke ayyubthalieb@yahoo.com ya makasih banyak atas bantuannya

Taufik Arifin said...

Sori Ayyub, baru balas nih. Naiknya dekat sungai Hotel The PARK dekat Robetson Hotel jalan sedikit... Gampang kok nyarinya. Kalau dari dari Central stasiun MRT jalan kakinya aja ke arah pinggir sungai.. Gitu.. Mudah2an bermanfaat. tks