2 Tahun lagi sahabat ku Pensiun

Tanpa membuat janji saya mampir ke kantor seorang teman baik yang sudah sekitar 3 bulan ini kami tidak saling bertemu. Awalnya saya tidak bermaksud mampir tapi karena ingin mencukupkan jumlah kunjungan minimal 5 perhari saya putuskan untuk singgah. 
Kantornya di sebuah gedung baru nan megah di Cilandak Jakarta Selatan. Beliau ini sahabat saya sejak akhir tahun 88 lalu, jadi totalnya kami sudah berteman selama 23 tahun. Sahabat saya ini seorang yang betah bekerja di tempat yang sama alias bukan type kutu loncat. Hingga tahun ini dia sudah bekerja di  group perusahaan itu selama hampir 30 tahun. 2 tahun lagi dia akan memasuki masa pensiun. 
Karirnya di bilang cukup bagus, walau tidak terlalu mencuat. Posisisnya sekarang sebagai seorang senior manager atau setingkat asisten direktur. Selama pembicaraan kami, saya melihat betapa dia sudah mulai jenuh dengan pekerjaannya sekarang.

Naluri saya sebagai seorang Financial Planner mulai saya mainkan. "Ngomong-ngomong kapan pensiun?" tanya saya. Dia jawab, "wah sudah dekat nih, dua tahun lagi" katanya sampil tertawa kecil. "Mau ngapain yah, nanti kalau sudah pensiun" dia berkata sambil menatap mata saya. 

Setelah ngobrol ngalur-ngidul, akhirnya saya paham bahwa teman ini sudah mempunyai tabungan yang lumayan besar dari kantor pada saat dia memasuki pensiun nanti. Disamping itu dia juga mempunyai tabungan dari JAMSOSTEK, beberapa bidang tanah dan tentunya rumah yang dia tempati saat ini yang juga sudah lunas. Kalau dilihat dari persiapannya tampaknya teman ini sudah mempunyai persiapan dana yang cukup untuk memasuki masa pensiun nanti. 
Namun ada sedikit masalah, tiga orang anaknya saat ini masih sekolah. Dua anak pertama (kembar) baru masuk SMA tahun ini sedangkan satu orang lagi masih sekolah SMP. Pada saat teman ini pensiun dua anak pertama baru masuk kuliah dan yang kecil masuk ke SMA. Jadi kalau dilihat dari kondisi teman ini, beban ekonominya masih akan cukup besar pada saat usia pensiun nanti. Paling tidak sampai lima tahun ke depan sampai dua anak pertama selesai kuliah. 

Ketika saya tanya tentang apa yang akan dilakukannya setelah pensiun nanti. Dengan agak malu-malu dia mengatakan ingin kembali ke kampung halaman untuk bertani dan beternak karena itu adalah kehidupan dia sebelum merantau ke Jakarta. Selain itu ada juga terbetik di hatinya untuk berusaha atau berdagang. Tapi dia juga tertarik untuk membangun rumah kontrakan yang bisa disewak-sewakan. 

Setelah mendengar kondisi teman saya ini sebagai seorang financial planner yang saya sarankan hal-hal sebagai berikut kepadanya:
  1. Saya sarankan agar dia tetap bertahan di perusahaan itu walau dia sendiri sudah jenuh. Tanggung, dia sudah bekerja selama 30 tahun dan waktunya tinggal 2 tahun lagi dia akan mendapatkan tabungan dan segalah benefits dari perusahaan secara full. Tidak mudah baginya untuk mencari pekerjaan lain di usia yang sudah lanjut seperti sekarang ini.
  2. Jika nanti uang pensiunnya sudah diterima agar digunakan secara bijaksana. Berlakulah seolah-olah itu uang gajian yang yang diterima setiap bulan. Ingat, uang itu adalah biaya hidup anda selama sisa hidup anda, bisa 5 tahun, 10 tahun atau bahkan 15 tahun lagi. 
  3. Saya sarankan agar sahabat ini tidak berbisnis apapun itu. Saya tahu bahwa teman ini tidak ada bakat bisnisnya, dia juga belum pernah mencoba berbisnis. Atau tidak usah tertarik dengan berinvestasi di bidang peternakan atau pertanian dengan menyerahkan modal kepada saudara di kampung. Pengalaman pribadi saya dan juga teman-teman lain kerjasama seperti itu tidak ada yang berhasil . Penyebabnya sederhana, karena yang mengelola tidak professional dan tidak amanah.
  4. Saya sarankan kepada teman ini agar mencari pekerjaan lagi setelah pensiun nanti. Saya yakin dia masih bisa mendapatkan pekerjaan karena dia mempunyai pengalaman kerja yang bagus, punya banyak relasi yang dia bantu selama dia bekerja. Pekerjaan apa saja terima saja, walau gajinya lebih kecil (sudah pasti kecil) tapi itu lumayan untuk mengurangi defisit anggaran belanja keluarga. Bekerja kembali juga bisa membuat dia sibuk sehingga bisa mengurangi proses degeneratif yang lebih cepat.
  5. Uang pensiun yang dia terima jangan semuanya di simpan di deposito atau tabungan rekenening biasa karena deposito hasil investasinya saat ini rendah sekali hanya berkisar sekitar 7% saja. Saya sarankan agar dia juga menyimpan sebagian besar di Reksa Dana yang bisa bisa menghasilkan return lebih tinggi. Saat ini hasil investasi di Reksa Dana berkisar antara 15% s/d 35% tergantung siapa manajer investasinya. Kalau dengan 15% saja sudah sangat bagus karena tingkat inflasi rata-rata saat ini sekitar 7%. Jadi uangnya tumbuh 2 kali daripada tingkat inflasi. 
  6. Menekan pengaluaran seminimal mungkin pada saat pensiun nanti, kalau bisa sampai setengahnya. Saat ini dia mempunyai pengeluaran perbulan sekitar Rp. 20 juta dan berharap pada saat pensiun nanti pengeluaran juga sama sebesar itu. Saya sarankan agar dia bisa menekan pengeluaran pada saat pensiun nanti kalau bisa sampai setengahnya. Kalau tidak uang pensiunnya hanya akan bisa bertahan sampai tahun ke empat saja.
  7. Tinjau ulang polis-polis asuransi yang ada saat ini. Dia mempunyai beberapa polis asuransi dengan pembayaran premi sekitar 2 juta perbulan. Kalau polisnya memberikan manfaat yang terlalu kecil tapi premi tinggi sebaiknya ditutup. Polis-polis asuransi yang nilai pertanggungan cukup tinggi di pertahanan kalau bisa dinaikkan lagi karena dia masih membutuhkan uang pertanggungan yang tinggi. Dia masih mempunyai 3 orang anak yang masih sekolah. Untuk keperluan uang kuliah 3 orang anak ini dia memerlukan paling tidak sekitar 1 milyar nanti pada saat mereka mulai kuliah. Dia perlu memiliki proteksi sebesar terutama untuk biaya pendidikan anak-anaknya jika dia dipanggil Allah sebelum anak-anaknya selesai kuliah.
  8. Beli asuransi kesehatan termasuk akibat penyakit kritis. Sekarang untuk semua biaya kesehatan nya dibayarkan oleh kantornya tapi nanti pada saat dia pensiun dia harus menanggung semua biaya kesehatan. Saya saranakan agar dia dari sekarang membeli asuransi kesehatan untuk dia sekeluarga sehingga jika mereka sakit yang membayar adalah perusahaan asuransi bukan mengambil dari tabungan. Biaya pengabatan saat ini sangat tinggi apa lagi nanti. Bisa jadi tabungannya akan ludes hanya untuk mengobati salah satu dari mereka.
Untuk memberikan gambaran tentang kondisi cash flow teman ini pada saat pensiun nanti berikut saya buatkan ilustrasi dengan menggunakan formula perhitungan yang sudah diberikan oleh teman saya.

Usia sekarang          : 53
Usia Pensiun             : 55
Pengeluaran/tahun    : Rp. 20 juta
Jumlah uang pensiun : Rp. 1,5 m
Inflasi                       : 6%/thn
Tingkat Investasi       : 15%

Ilustrasi I dengan pengeluaran sama dengan sekarang
Jika teman ini tidak bisa menurunkan pengeluarannya setiap bulan dan tidak pula mempunyai penghasilan lain selain dari hasil investasi dananya yang bisa menghasilkan return sebesar 15%/tahun maka dia akan kehabisan unang pada usia 60 tahun. Jadi uangnya hanya akan bisa tertahan selama 5 tahun. Itu belum dipotong dengan pengeluaran untuk masuk kuliah ketiga orang anaknya. Dan juga dengan syarat dia sehat-sehat selalu. 

Ilustrasi II dengan pengeluaran dikecilkan dan ada tambahan penghasilan gaji setelah pensiun
Asumsi dia bekerja lagi dengan gaji 10 jt/bln selama 5 tahun

Jika teman ini mau bekerja kembali katakan sampai usia 60 tahun dan mau menekan biaya hidupnya menjadi 75% saja maka uangnya bisa bertahan sampai dia berusia 71 tahun. Pada saat itu kedua anaknya juga sudah selesai kuliah dan mungkin juga pada bekerja. Sehingga secara finansial teman ini tidak mempunyai beban lagi kecuali untuk keperluan hidupnya sendiri. Mudah-mudahan juga ketiga anakanya menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan bersedia merawat mereka.

Demikian catatan saya untuk teman saya ini. Ini hanyalah gambaran dari kondisi pensiun. Tidak mutlak harus seperti ini tapi adalah wajib hukumnya bagi setiap orang untuk merencanakan masa depannya. Jangan sampai teraniaya dan sia-sia diusia lanjutnya. Tidak ada yang peling peduli pada anda kecuali diri anda sendiri.

Semoga bermanfaat.

Share on Google Plus

About Taufik Arifin

0 comments: