Adakah Partner Usaha Yang Ideal?

Saya tak tahan menunggu untuk menuangkan perasaann saya setelah berdiskusi cukup lama dengan tetangga saya yang baru pulang umroh tadi pagi. Sebagai sesama pebisnis kami punya waktu cukup leluasa untuk meneruskan wirid dan qiraah selesai sholat subuh. 

Setelah bercerita panjang lebar mengenai kisah perjalanan umrohnya kami juga bercerita tentang bisnis. Pengalaman masing-masing dalam mengelola bisnis. Beliau ini adalah pebisnis sejati. Memulai bisnisnya sendiri dari bawah. Dari bengkel kecil yang disewa di pinggir kota dengan modal pinjaman dari para supplier. Sempat jatuh tersungkur akibat krismon 12 tahun lalu. Bangun dan bangkit lagi hingga sekarang usahanya maju dan berkembang pesat. Beilau ini dulu juga terinspirasi (katannya) dengan kesuksesan saya. Beliau kagum ketika saya dimasa sulit itu sempat beli mobil Honda CRV baru, sementara bisnis beliau sedang kerkapar. Itu dulu, sekarang beliau sudah punya Honda New CRV, rumah bertingkat, bengkel dan tanah luas dan lain-lain.

Ternyata beliau juga mengalami masalah dengan menentukan partner bisnis sama seperti yang saya alami dulu. Bahkan beliau punya pengalaman yang lebih "ngeselin" karena partner beliau itu adalah saudara kandung beliau sendiri. Yang beliau ajak, bina, sejak belum bisa apa-apa sampai menjadi direktur seperti saat ini. Beliau mengkisahkan satu hari beliau menemukan ada pengeluaran untuk notaris. Beliau telurusi  dana tersebut dan ternyata sang adik sedang mengurus izin perusaahan baru atas namanya sendiri. Tapi dengan mengadalkan peralatan, bengkel, kantor serta klien milik sahabat saya. Saya jadi ingat pengalaman saya dulu dengan teman-teman saya. Walau masalahnya berbeda tapi hakekatnya hampir sama, yaitu sama-sama ingin "menusuk" dari belakang, atau jadi musuh dalam selimut atau musang berbulu ayam. Saya dapat membayangkan bagaimana perasaan beliau ketika mengetahui waktu itu. Karena beliau sudah berikan segala yang pantas untuk sang adik, gaji yang lumayan, fasilitas kendaraan, punya rumah, bagi hasil pokoknya tidak jauh berbeda dengan yang dia dapatkan untuk dirinya sendiri.

Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Pertama siapaun sang adik, dia juga manusia. Manusia yang mempunyai ego dan ambisi  untuk menunjukkan jati dirinya. Memang sulit untuk bisa mengakui kehebatan orang lain atau menghargai jasa orang lain. Kita sering kalah dengan hawa nafsu kita. Kadang pengaruh setan jauh lebih kuat. Bahkan tak segan-segan sang adik menggondol semua bisnis sang kakak. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah adanya orang ketiga. Mereka itu isteri atau suami dari sang adik. Merekalah yang sangat mempengaruhi kesucian hati sang adik. Mereka tidak tahu bagaimana para seringkali kakak mengalah, merugi, sengsara, berkorban demi sayangnya pada sang adik. Apalagi ajaran dari orang tua  kita bahwa sang kakak wajib mengurus sang adik. Entahlah apakah itu dicatat oleh Allah sebagai balas budi kita kepada orang tua, mereka memberikan tugas yang sebenarnya menjadi tugas mereka kepada para kakak. Kasihan benar nasibnya para kakak. Sang adik rata-rata menganggap segala apa yang diberikan oleh sang kakak itu sebagai hak mereka!, itulah tugas sang kakak, mengurusi mereka. Pandangan itu sepertinya berlaku seumur hidup, dimata sang adik, kakak lah yang berwajiban mengurus mereka sampai sang kakak menghembuskan nafas terakhirnya. Di lain pihak adik tidak punya kewajiban membalasnya.  
Eh, kenapa jadi bercerita panjang lebar mengenai masalah "kakak-adik relationship" seperti ini yah? Yah mudah-mudahan tidak semua kakak mengalami nasib seperti ini dan tidak semua adik pula yang berperilaku seperti ini. Masih ada juga adik yang  sayang pada kakaknya, sampai hari tua. Tapi di negeri mana yah?

Kalau bekerjasama dengan saudara juga seperti ini akhirnya kemanatah lagi kita mencari partner bisnis yang ideal? Teman tidak bisa diandalkan, keluarga dekat sama saja alias podho wae. Tidak perlu berputus asa. Kita perlu pintar-pintar melihat situasi, pandai-pandai mengendalikan arus. Kadang kita harus berjiwa "sadis", begitu melihat ada gejala-gejala negatif segera ambil tindakan dan jangan takut untuk memutuskan hubungan bisnis. Untuk berbisnis kita boleh memilih, dengan siapa yang kita merasa cocok. Iya cuma putus hubungan bisnis sementera tali persaudaraan tetap berjalan. Dari pada dua-duanya hancur lebih baik jalan sendiri-sendiri. 

Tak ada teman bisnis sejati..... tapi cukup miliki Allah SWT saja sebagai Sahabat dalam situasi apapun.....
Share on Google Plus

About Taufik Arifin

0 comments: