Jabatan saya sebagai VP alias vice president nasibnya hampir sama dengan
jabatan wakil presiden negara kita di masa lalu. Hanya jabatan politis, jadi pajangan
dan tidak punya otoritas yang jelas. Bagi saya itu tidak apa-apa, justru ini
kesempatan yang baik bagi saya untuk melakukan hal-hal yang lain untuk
mempersiapan pensiun.
Saya mengikuti program pendidikan profesi tenaga ahli broker asuransi yang
diselenggarakan oleh Asosiasi Broker Asuransi Indonesia (ABAI). Pendidikan
ini dalam bentuk crash program yang diperuntukan khusus bagi para direksi
perusahaan broker asuransi. Pendidikan ini berlangsung selama lebih kurang
tiga bulan. Alhamdulillah saya berhasil menyelesaikannya dan berhak
menyandang gelar Ahli Pialang Asuransi Indonesia (APAI) sekaligus menyandang
gelar Certified Indonesian Insurance Broker (CIIB).
Selain itu saya juga mengikuti seminar dan konferensi mengenai pemanfaatan
Information Technology di industri asuransi di Kuala Lumpur.
Sebagai seorang ekonom saya sangat menyukai bacaan mengenai berita tentang
bisnis baik koran maupun majalah. Satu hari saya membaca iklan di majalah SWA
majalah informasi bisnis terkenal bahwa ada lomba yang akan diadakan oleh
Accenture Consulting bekerjasama dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
(HIPMI) dan majalah SWA untuk memilih lima puluh perusahaan Usaha Kecil dan
Menengah (UKM) terbaik dari seluruh Indonesia. Accenture adalah perusahaan
management dan business consultant terbesar di dunia yang berasal dari
Amerika Serikat. Di setiap negara tempat mereka beroperasi mereka mengadakan
penelitian mengenai perkembangan bisnis negara itu. Salah satu caranya adalah
dengan mengadakan perlombaan diantara pengusaha khusus pengusaha kecil dan
menengah (UKM).
Karena sudah berpengalaman mengikuti kegiatan serupa ini sebelumnya saya
mendaftarkan perusahaan kami untuk ikut perpartisiapasi. Kalau dalam lomba
yang saya ikuti sebelumnya bersama IBM kompetisi masih berupa simulasi, tapi kalau
lomba yang ini adalah dari hasil real dan nyata. Kami diminta untuk menyampaikan
laporan keuangan perusahaan hasil usaha tahun sebelumnya. Kemudian mengikuti
beberapa interview dengan direksi dan beberapa orang manager. Mereka juga
meminta nomor telepon dari beberapa nasabah kami. Setelah itu kami diminta
menunggu hasil evaluasi dari team mereka.
Setelah beberapa waktu kami menunggu akhirnya kami menerima surat undangan
khusus untuk penyerahan penghargaan bertempat sebuah hotel bintang lima di
Jakarta. Alhamdulillah perusahaan kami masuk peringkat dua puluh perusahaan
UKM terbaik di Indonesia tahun 2001.
Tahun 2002 kami kembali mengikuti lomba yang sama. Kali ini kami mencapai
peringkat nomor dua perusahaan UKM terbaik di Indonesia. Syukur
alhamdulillah. Ternyata menurut pantia perusahaan kami tidak hanya mampu
memberikan kinerja yang sangat baik tapi juga mempunyai prospek jangka
panjang yang bagus karena telah menggunakan sistem komputerisasi yang sangat
baik.
Bagi saya kemenangan ini sebagai bukti konfirmasi atas keberhasilan saya dan
rekan-rekan saya sebagai juara nasional dan juga juara Asia Pacific Bizgame
IBM 95. Bahwa semua ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan dari kompetisi
itu benar-benar berhasil saya buktikan di dalam kehidupan nyata. Jadi saya bukan
hanya bisa secara teori. Kadang saya tidak percaya
bahwa saya yang berlatar belakang anak desa ini sudah empat kali meraih prestasi
terbaik di tingkat nasional dan kawasan Asia Pacific. Saya yakin sayalah
satu-satunya alumni Sekolah Dasar (SD) 1 Desa Sariek Laweh, Kecamatan Akabiluru,
Kabupaten Lima Puluh Kota, propinsi Sumatera Barat yang mampu mencapai
prestasi seperti ini.
Diantara pemenang Enterprise 50 Indonesia adalah rekan dan sekaligus klien
kami saat ini yaitu Cipaganti Group yang dipimpin oleh bapak Andianto. Salah
satu perusahaan transportasi dan rental alat berat terbesar di Indonesia saat
ini. Dengan kemenangan ini reputasi perusahaan kami membumbung tinggi di bumi
pertiwi karena dipublikasikan di media masa nasional. Saya pun sempat
diwawancarai oleh beberapa wartawan, menjadi narasumber di stasiun radio. Jadilah
nama perusahaan yang dulu kedengaran aneh itu menjadi buah bibir. Para klien
sangat menghargai, rekan-rekan asuransi ikut bangga serta rekan-rekan
kompetitor banyak yang angkat topi. Sejak saat itu kamipun boleh menggunakan
logo Enterprise 50 di dalam setiap dokumen kami. Selain itu saya pun secara
otomatis menjadi anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Tak
disangka akhirnya saya jadi juga menjadi anggota HIPMI. Pada tahun 1977
ketika saya kelas satu SMP bersama teman sekaligus saudara saya Anharmen kami
pernah membangun cita-cita atau dream building menjadi anggota HIPMI. Hari
itu kami mendengar berita bahwa presiden Suharto meresmikan Musyawarah
Nasional HIPMI. Tiba-tiba sahabat saya ini bilang “entar kalau kita besar
kita jadi pengusaha ya, terus kita masuk HIPMI” katanya. Alhamdulillah 25
tahun kemudian impian itu menjadi
kenyataan.
Sejak itu saya mulai aktif mengikuti kegiatan HIPMI. Saya masuk menjadi
anggota HIPMI Jaya untuk wilayah DKI. Hampir semua rapat, seminar, pertemuan
sesama anggota saya ikuti. Pada saat itu ketua umum HIPMI adalah Muhammad
Luthfi yang sekarang menjadi Duta Besar RI untuk Jepang. Saya suka dengan
suasana di HIPMI, mereka berfikir positif terbuka dan selalu melihat peluang.
Mereka menunjukkan semangat kerjasama diantara anggota. Yang kuat membuka
kesempatan yang lemah, yang senior dengan suka rela membantu memberi
pengarahan kepada yang muda.
Karena load pekerjaan saya di kantor tidak lagi terlalu tingi saya manfaat
waktu dengan menjadi pengurus Asosiasi Broker Asuransi Indonesia ABAI. Saya
diangkat sebagai wakil sekretaris jendral. Menjadi pengurus organisasi itu
ternyata mengasikkan juga. Kita bisa punya banyak teman, memperluas ilmu
karena bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan sesama pelaku industri
asuransi.
Kegiatan saya semakin bertambah di ABAI sehubungan dengan diterbitkannya
majalah Broker Asuransi yang khusus diedarkan di kalangan komunitas asuransi.
Saya menjadi salah satu redakturnya. Ketua umumnya adalah bapak Kapler
Marpaung. Sementara rekan redaktur yang lain adalah Freddy Pieloor dan
Chriastuti Lucy. Kami membangun majalah itu dari nol hingga akhirnya terbit
selama beberapa bulan sebelum akhirnya dihentikan karena ABAI menjadi pemilik
saham dari majalah Info Proreksi yang dikelola bersama oleh federasi Asosiasi
asuransi di Indonesia. Di majalah ini saya pernah menjadi perwakilan ABAI di
sebagai redaktur. Saya banyak sekali belajar dari menjadi redaktur majalah.
Terutama dalam hal tulis-tulis menulis. Sekarang saya sadari bahwa sebenarnya
kelebihan saya adalah dalam tulis-menulis ini. Saya mendapat nilai delapan
untuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris di dalam nilai rapor SMA saya.
Sementara untuk kimia, fisika 5,5 cuma biologi yang 6. Jadi jurusan yang cocok
buat saya sewaktu SMA adalah jurusan
bahasa bukan jurusan IPA. Saya banyak belajar dari rekan-rekan saya tentang
teknik menulis, mengedit naskah, menyiapkan topik dan kain-lainnya. Saya
banyak belajar dari sahabat saya pak Kapler A Marpaung dalam hal memilih
judul, topik bahasan, gaya bahasa dan segala yang terkait dengan itu.
Maklumlah bang Kapler ini adalah kolumnis dan narasumber masalah asuransi
yang sudah kawakan. Ide dan pemikirannya sudah banyak yang menjadi masukan
dan bahan pertimbangan bagi pelaku industri asuransi maupun dari pihak
otoritas.

|
0 comments:
Post a Comment